Langsung ke konten
Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark
Situs Geologi

Gunung Berapi Barujari

Kawah Kaldera Segara Anak, Gunung Rinjani

Gunung Berapi Barujari

Aktivitas vulkanik setelah letusan Gunung Samalas terus berlanjut di dalam kawah, yang mengakibatkan terbentuknya dua kerucut vulkanik, yaitu Gunung Rombongan dengan ketinggian 2.110 m dpl dan Gunung Barujari, sebuah gunung berapi aktif dengan ketinggian 2.376 m dpl yang terus tumbuh. Letusan berikutnya yang tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1944, 1966, 1994, 2004, 2009, dan 2010. Kubah Gunung Rombongan menjadi sumber letusan pada tanggal 25–30 Desember 1944, yang diawali oleh gempa bumi dan hembusan angin kencang, diikuti oleh semburan asap tebal dan hujan abu. Kubah Gunung Barujari memiliki kawah tengah dan kawah samping. Kawah tengahnya kini berukuran sekitar 170 x 200 meter. Kawah ini merupakan pusat letusan yang menghasilkan aliran lava pada tahun 1966 dan 1994. Kawah samping terbentuk di lereng utara kerucut selama letusan pada 1 Oktober 2004. Letusan berturut-turut terjadi dengan selang waktu 5 hingga 160 menit, menghasilkan abu tebal dengan ketinggian 300–800 meter. Kawah ini juga merupakan pusat letusan yang menghasilkan aliran lava pada tahun 2004, 2009, dan 2010. Jenis letusan tahun 1944 adalah andesit basalt yang menyebar ke arah utara dan barat dengan volume sekitar 73,2 juta m³.

Lava dari letusan tahun 1966 berjenis basalt, meluap ke arah timur kemudian menyebar ke utara dan selatan dengan volume sekitar 6,6 juta m³, sedangkan lava dari letusan tahun 1994 mengalir ke arah barat dengan volume sekitar 25,4 juta m³. Lava dari kawah samping Gunung Barujari berasal dari letusan pada tahun 2004, 2009, dan 2010. Lebar area penyebaran lava dari letusan tahun 2009 mencapai 650.000 m². Hal ini mengakibatkan berkurangnya luas permukaan danau sebesar 460.000 m².

Gunung Berapi Barujari